:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/2790653/original/045790500_1556443320-WhatsApp_Image_2019-04-28_at_16.07.14.jpeg)
Liputan6.com, Jakarta - Kota Kudus, Jawa Tengah menjadi salah satu kota penghasil pemain bulutangkis papan atas Indonesia. Di kota yang dijuluki Kota Kretek ini lah, pemain seperti Lim Swie King dan Hastomo Arbi, Alan Budi Kusuma dan Hariyanto Arbi lahir dan menimba ilmu.
Pada akhir April lalu, Liputan6.com berkesempatan mengunjungi kota yang juga terkenal dengan Menara Masjid Kudus-nya ini. Liputan6.com menyambangi Kudus dalam rangka peluncuran buku legenda bulutangkis Indonesia, Liliyana Natsir dan buku perjalanan 50 tahun PB Djarum.
PB Djarum boleh dibilang adalah salah satu kawah candradimuka atlet bulutangkis nasional. Empat legenda bulutangkis yang disebut di awal menimba ilmu di PB yang resmi berdiri pada 1969 ini.
Kunjungan Liputan6.com ke Kudus kali ini kian terasa spesial. Pasalnya, peluncuran buku ini ternyata juga menjadi ajang reuni para atlet bulutangkis nasional.
Suasana hangat terasa saat makan siang. Para atlet dari berbagai generasi berbaur dan mengobrol. Tampak Christian Hadinata, salah satu legenda bulutangkis Indonesia juga hadir, meladeni pertanyaan dari para wartawan.
Liputan6.com sendiri berkesempatan mewawancarai Alan Budi Kusuma. Ia mengakui, kehadirannya ke acara ini adalah untuk reuni.
"Nomor satu adalah temu kangen. Ngobrol-ngobrolnya dulu kita di sini. Dulu kan kita tidak seperti ini fasilitasnya. Dulu latihan di gudang," kata Alan yang masuk ke PB Djarum pada 1986.
Selepas makan siang, acara peluncuran buku dimulai. Ada salah satu momen menarik ketika Liliyana berkaca-kaca saat mengenang jasa para senior.
"Sebelumnya saya ingin menambahkan bahwa kita juga jangan melupakan sejarah bahwa di sini ada jasa senior-senior kita," ujar Liliyana.
Audisi umum Djarum 2018 akan mulai digelar pada 24 Maret di Pekanbaru sebagai kota pertama.
No comments:
Post a Comment